Pages

Monday, 13 October 2014

Happy Anniversary

Kita tentu pernah tidak percaya bahwa seseorang yang menjadi teman hidup kita adalah orang yang mungkin pernah berpapasan dengan kita di jalan, bersama menunggu bus datang atau orang yang duduk di gerbong kereta yang sama. Lalu dengan cara luar biasa kita kemudian dipertemukan dan akhirnya kita meyakini bahwa dia adalah orang yang tepat untuk mendampingi kita menghabiskan masa tua. 

Nyatanya, orang yang dengan yakin menggenggam tangan ayah saya, rela mengambil alih dan bertanggung jawab atas hidup saya adalah orang yang datang secara tiba-tiba tapi bisa membuat saya yakin bahwa dia bisa membuat cita-cita saya tentang keluarga dan kehidupan yang ingin saya bangun akan menjadi nyata.



Happy first wedding anniversary

The previous 'one year' is very precious for me, may Allah gives His blessing and happiness for our life ahead. 

Jakarta, October 13 2014

Friday, 19 September 2014

Be thankful

Mengutip nasihat Charles Swindoll dalam tulisan Fahd Pahdepie

"Hidup kita ditentukan oleh hanya 10% saja peristiwa yang menimpa diri kita, 90%-nya ditentukan dengan cara kita bereaksi terhadap yang 10% itu."

Saya selalu percaya, Tuhan hanya memberi kita sebuah rangsangan untuk bereaksi, sisanya kita yang akan menentukan bagaimana menghadapi hal-hal yang ada di depan kita. Mungkin beberapa dari kita merasa menyesali apa yang terjadi atau merasa 'iri' terhadap apa yang diperoleh orang lain. Atau kadang kita sering bergumam sendiri, memaki dan merasa dunia atau bahkan Tuhan tidak adil. Kenapa ada orang-orang yang hidupnya terlihat sempurna, atau ada orang-orang yang punya kebebasan penuh memilih apa yang mereka inginkan, sementara sebagian lainnya mungkin tidak punya pilihan sebanyak itu.

Mari kita berkaca, bagaimana kita bersikap selama ini, mari perbaiki hal-hal yang pernah kita sesali lantaran tidak kita lakukan atau selalu kita tunda. Tuhan bukannya tidak adil, Dia hanya ingin melihat bagaimana usaha kita agar selalu dekat dengan-Nya. So just be thankful, be thankful both for the happiness or unhappiness, for the smile, cry and pain, for every single thing and people around us and be thankful every time...


-PHE Tower 3rd Floor

Tuesday, 2 September 2014

Interview (*nasib para job seeker)

Yah, untuk men-trigger saya memposting tulisan lain yang lebih berbobot, mungkin boleh lah saya mulai dari tulisan yang nggak penting dulu. Saat ini, sekarang juga, saya baru saja selesai interview kerja dengan salah satu perusahaan di Jakarta. Ini adalah interview kedua pasca 3 bulan menjadi pengangguran, not exact pengangguran sih, cucian sama setrikaan di rumah selalu ada. Hehe... Tapi ini interview yang kesekian dalam hidup saya, sebelumnya ada interview beasiswa, program pertukaran, masuk organisasi, kerja di kampus, jadi asdos dan lain-lain.

Daan, infonya adalah saya selalu bingung ketika ditanya, "Gimana interviewnya?". Well, menurut saya, interview yang saya lewati selalu lancar, meskipun saya juga nggak ngerti jawaban saya bener atau nggak ya, karena meyoritas yang ditanyakan selalu lebih kepada apa yang kita tahu, apa yang sudah kita kerjakan, dan apa ekspektasi kita. Nah kan, nggak ada jawaban yang salah. Masalahnya cuma apa yang ada dalam diri kita ini memenuhi ekspektasi user apa nggak sih.

Interview beasiswa paling sadis yang pernah saya jalani itu adalah waktu apply program exchange ke Amerika, sadis deh. Saya lupa nama beasiswanya, tapi di sana ditanya peran major saya untuk masyarakat itu apa. Nah, jelasin pake Bahasa Indonesia aja bingung, apalagi pake Bahasa Inggris. Ditambah lagi, dulu masih cupu-cupunya di tingkat dua kuliah.

Kalau interview kerja paling sadis, itu waktu interview Total E&P Indonesie. Waktu itu saya baru saja lulus satu bulan, lalu dipanggil untuk interview. Jangan ditanya, pake Bahasa Inggris juga plus pertanyaannya soal teknis bener. Kayak misalnya resource apa yang dibutuhkan untuk Emergency Response Plan, disuruh analisis main hazard di sana plus penanggulangannya, ditanya soal system shutdown, ditanya soal operasional di lapangan. Dan itu adalah interview di mana jawaban-jawaban saya sangat polos (*atau bodoh) dan apa adanya. Pokoknya pasrah bener deh. Anehnya, justru saya diterima di sana, mungkin karena nggak minta gaji gede-gede kali yak. Haha...

Untuk interview kali ini, saya sih ngerasa pertanyaannya nggak sesulit wawancara sebelumnya sih. Anw yaa, beberapa orang bertanya kenapa saya resign dari Total, jawabannya adalah karena saya mau memenuhi kewajiban utama saya sebagai istri karena jarak antara Jakarta-Balikpapan itu ganggu bangeeeet. Tujuan utama kita hidup salah satunya tentu nyari ridho suami dong (*ceilaah). Oke, balik ke topik, ini wawancara nggak susah sih, tapi kabarnya, sudah ada 1 orang shortlisted dari kandidat yang diwawancara sebelumnya di mana kandidat tersebut berasal dari internal tim. Tantangan banget nih, gimana justru kita bisa membuktikan bahwa mereka butuh point of view lain yang nggak didapet dari orang dalem. Sisanya saya cuma cuap-cuap cerita tentang program-program yang saya kembangkan dan saya susun di tempat kerja sebelumnya. Doakaan, smoga ini memang rejeki saya. Aamiin. Hehe...

Oiya, saya merasa semakin matang sih dalam setiap wawancara (contoh: mulai nggak cengengesan kalo ditanya), mulai lebih pede. Ini semua setelah di coach suami yang super duper pede di setiap kesempatan. Tapi saya belum bisa menghilangkan kepolosan saya kalau ditanya (saya nggak bisa pura-pura ngerti kalo emang nggak ngerti, nggak bisa jual diri dan minta gaji gede --> ini paling sebel). Hahaha... Over all sih, kerja kali ini tujuannya nggak semata-mata cari uang tapi lebih kepada self development.

Saran ya kalo mau interview:
1. Pakai baju rapih, plus pakai baju favorit. Kalo pake baju favorit buat saya bisa meningkatkan self confidence kita dan membuat kita nyaman.
2. Datang sebelum waktu interview. Dari sana bisa terlihat sejauh mana kesungguhan kita mau join perusahaan tersebut, plus curi-curi info mengenai kandidat-kandidat lainnya dan hal-hal apa aja yang ditanyakan saat interview. Lumayan bisa googling dulu. Bisa tuker nomer HP juga sama kandidat lainnya, siapa tau ada info lowongan lain kalo nggak diterima.
3. Jawab pertanyaan sebisa mungkin tapi jangan sotoy. Bisa jadi ini merupakan pancingan untuk pertanyaan-pertanyaan selanjutnya. Nah kan kalo dari awal udah sotoy terus salah, malah bikin malu.
4. Terlihat sefamiliar mungkin dengan perusahaan tersebut, kalo punya temen di sana, cari info sebanyak-banyaknya tentang sistem atau lingkup pekerjaan di perusahaan tersebut. Atau bisa juga googling.
5. Usahakan setenang mungkin, ini susah banget, tapi coba cairkan suasana dengan melempar joke, karena kalo nervous pasti apa yang sudah kita pelajari hilang menguap begitu sajaa.
6. Berdoa, minta doa sebanyak-banyaknya, minta restu suami, ortu, mertua, temen-temen, dll.
7. Kalo nggak diterima jangan sedih, percaya bahwa ada tempat lain yang lebih bagus menanti kita.

Oke, baiklah, sekian cerita nggak penting hari ini. Buat para job seeker lain, semangat yaa! 

Thursday, 21 November 2013

New Life




Sekarang kita punya 4 kaki untuk berjalan
4 pundak untuk menopang
dan 2 kepala untuk sama-sama berpikir

Saturday, 20 April 2013

-about us-


Satu tahun lalu, ada yang malu-malu membawa boneka kucing besar -- yang belakangan saya panggil Piku, dan sepotong pizza, membawa saya ke taman dekat perpustakaan lalu berkata serius, "Umur saya tahun ini sudah 26 tahun, saya mau serius... Untuk ke depannya, kita bisa bicarakan pelan-pelan dengan orang tua kita masing-masing, kamu mau?"

Saya tidak ingat persis kata-katanya, yang saya ingat, saya gugup, jantung saya berdetak lebih cepat, lalu seperti terhipnotis, saya jawab "iya".

Tidak terlalu banyak masalah setelahnya, kecuali beberapa teman yang memaksa kami segera menikah. To be honest, itu juga yang kami inginkan. Tapi kami sama-sama punya janji yang belum selesai pada orang tua kami. Saya harus lulus. Itu janji saya. Selama itu juga, orang tua saya tidak akan meridhoi saya menikah terlebih dahulu. Dan dia. Dia janji membuatkan sebuah rumah untuk orang tuanya. 

Kenapa harus dia orangnya? Sederhana. Karena saya tidak ragu saat mengatakan iya, dan sampai saat ini pun saya tidak pernah ragu.

Januari 2013

Saya menerima telpon dan dari nada suaranya, saya tahu, dia sangat senang. Finally he got what he wanted. Saya tahu, bekerja di lapangan adalah satu dari deretan cita-citanya. Jadi meskipun berat, saya belajar memahami dan saya ada, salah satunya, untuk mendukung apa yang menjadi cita-citanya, vice versa.

Malam itu, di ruang tamu, saya, dia, ayah dan ibu saya. Saya gugup. Saya memilih diam sambil bermain handphone. Saya juga tahu, dia lebih gugup. Cara bicaranya lebih cepat dari biasanya. Saya tidak tahu bagaimana alur pembicaraan saat itu akhirnya membawa dia untuk serius 'meminta' saya. Saya makin gugup.

Februari 2013

Sehari setelah wisuda, dia berangkat ke Myanmar. To be honest, saya merasa sangat berat, beradaptasi dengan hidup pasca kampus dan kondisi di mana dia tidak ada secara fisik di Indonesia. Belum lagi tempat kerjanya di tengah laut, membuat komunikasi kami menjadi sangat bermasalah. Bahkan entah berapa kali, dia tidak ada di saat saya harus mengambil keputusan-keputusan penting menyangkut hidup saya. Berapa kali juga kami bertengkar karena saya menerima pekerjaan di Balikpapan dan harus berangkat sebelum dia pulang.

Paginya, setelah malam itu berdebat, dia menelpon, 'Tahan ke Balikpapan sampai tanggal 24 Maret, tanggal 22 Maret, setelah aku pulang kita lamaran'

22 Maret 2013

Saya cukup kaget, sepulangnya ke rumah, saya melihat keluarga saya berkumpul, ayah saya mengundang adik-adiknya untuk datang. Saya gugup (lagi). Berkali-kali berganti baju. Akhirnya saya memilih kaos ungu dengan sweater ungu. Entah berapa kali saya berkaca malam itu. Memastikan tidak ada yang aneh. Lalu saya melihat dia datang, bersama orang tua, adik dan seorang juru bicaranya. Dia rapih dengan batik ungu dan sepatu pantofelnya. Kami sesekali saling bertatap sambil tersenyum. Finally the day is coming, he proposes me officially. Smoga Allah mempermudah segala rencana kita, Dedi Laksono....

Balikpapan
20 April 2013

Thursday, 21 February 2013

My Graduation

Kalau semester lalu saya menuliskan bagaimana euforia teman-teman yang wisuda maka saya bersyukur semester ini giliran saya memakai toga berlapis pita ungu.

WELCOME TO THE REAL WORLD, CITRA!!! 

Monday, 26 November 2012

Kontemplasi

Kadang kala, kita perlu waktu untuk membuka kembali buku catatan kita yang berisi mimpi-mimpi indah tentang dunia yang ingin kita ciptakan. Lalu pergi ke depan kaca, memandangi wajah kita sambil memikirkan hal apa saja yang sudah kita lakukan. 

Belajar di luar negeri
Ikut mapres
Lulus dari FKM
PM Indonesia Mengajar
S2 K3
Naik haji
Pergi ke Venezia
Menerbitkan buku kumpulan cerpen
TOEFL 600

Lalu kita harusnya kembali bisa menggali lagi mimpi yang sudah terkubur bersama kesibukan-kesibukan kita atas sesuatu yang sia-sia. Ya Allah, kembalikan semangat ini...


 

Template by BloggerCandy.com