Nama


“Siapa namamu?”
“Citra Amaliyah”
“Jadi apa nama keluargamu? Amaliyah”
“Oh bukan, bukan. Aku tak punya nama keluarga.”

Mengernyitkan dahi.

Oke, daripada saya dikira anak yang lahir tanpa orang tua lebih baik saya jelaskan cara orang Indonesia memberi nama.

“Mayoritas orang Indonesia memang tidak punya family name. Hanya di beberapa suku saja yang ada, itu disebut marga.”
“Hoh? Lalu bagaimana caranya kamu tau siapa saja saudaramu.”
“Hhmm yang jelas kami saling mengenal, meski tak menggunakan nama keluarga.”

Kisah Tikki Tikki Tembo

Atau ada kisah lain di China soal nama. Tentu kalian pernah mendengar kisah Tikki Tikki Tembo. Suatu masa, ada sebuah keluarga yang memiliki dua orang anak laki-laki. Anak pertama bernama Chang sedang anak kedua bernama Tikki Tikki Tembo -no Sa Rembo-chari Bari Ruchi-pip Peri Pembo. 

Kedua anak tersebut lalu bermain di dekat sumur meski sudah diperingatkan oleh sang ibu agar tidak bermain di sana. Kemudian, tanpa sengaja, Chang masuk ke dalam sumur. Tikki Tikki Tembo spontan berteriak dan berlari melapor pada sang ibu, “Mom, Chang masuk ke dalam sumur.”
Sang ibu ikut berteriak sambil menangis, “Cepat panggil Ayah, Chang masuk ke dalam sumur.”
Lalu mereka bertiga cepat menemui tukang kebun untuk meminta tolong, “Chang masuk ke dalam sumur.”
Setelah itu, tukang kebun memberi mereka tangga, dan akhirnya Chang berhasil diselamatkan.

Beberapa hari setelahnya, mereka berdua kembali main di dekat sumur. Kali ini giliran Tikki Tikki Tembo -no Sa Rembo-chari Bari Ruchi-pip Peri Pembo yang jatuh ke dalam sumur. Lalu Chang spontan berteriak dan melapor pada sang ibu, “Mom, Tikki Tikki Tembo -no Sa Rembo-chari Bari Ruchi-pip Peri Pembo masuk ke dalam sumur.”
Sang ibu panik dan berlari menuju sang ayah, “Tikki Tikki Tembo -no Sa Rembo-chari Bari Ruchi-pip Peri Pembo masuk ke dalam sumur.”
Hingga akhirnya mereka pergi ke tukang kebun untuk meminta pertolongan, “Tikki Tikki Tembo -no Sa Rembo-chari Bari Ruchi-pip Peri Pembo masuk ke dalam sumur. Tolong dia.”
Tukang kebun kembali memberikan tangga untuk menolong Tikki Tikki Tembo -no Sa Rembo-chari Bari Ruchi-pip Peri Pembo. Tapi sayangnya semua sudah terlambat karena Tikki Tikki Tembo -no Sa Rembo-chari Bari Ruchi-pip Peri Pembo sudah tidak bisa diselamatkan.

Menurut kisah tersebut, itu lah alasan orang China memberi nama yang singkat bagi anaknya. Hanya satu atau dua karakter saja.

____________________
Sedang di Korea, saya sendiri sering kali aneh ketika mendapati nama teman-teman saya yang hampir sama. Mayoritas dari mereka memiliki awalan nama Kim (yang notabene adalah family name) atau Lee. Kemudian diikuti dua suku kata lain yang juga hampir sama. Saya sendiri, meski sudah setengah semester dengan mereka sering sekali kesulitan mengingat namanya karena pronounciation yang hampir sama. Teman saya malah pernah memberi tahu, di Korea, jika nama yang diberikan pada anak agak sedikit berbeda atau keluar dari “kebiasaan” yang sudah ada, anak itu malah akan dianggap aneh.

Mungkin kita sering mengatakan apa lah arti sebuah nama tapi nyatanya nama memang selalu mempunyai makna mengandung harapan bagi pemiliknya. Di Indonesia sendiri, saya mesti berbangga karena setiap orang tua memiliki kreativitas dalam pemberian nama bagi anaknya. Bebas. Tak mesti terikat pada siapa sang kepala keluarga. Saya sendiri, dulu kakek saya memberi saya nama Citra Handayani. Kata ibu, 2 kata itu berasal dari bahasa sanskerta. Citra artinya bayangan dan handayani artinya yang dorongan (seperti dalam potongan kalimat tut wuri handayani).

Kemudian nama saya diubah ketika saya masuk SD karena saya dianggap “aneh”. Nama kedua saya diganti menjadi Amaliyah yang diambil dari bahasa Arab. Bagi orang Indonesia, seringkali sikap seseorang dikaitkan dengan nama yang diberikan. Ada juga tetangga yang mengganti namanya karena dianggap terlalu memberatkan. Tapi overall, saya selalu suka cara orang Indonesia memberi nama. Sangat beragam. Bahkan setiap orang tidak mesti terikat dengan siapa keluarganya.

Comments